
Medan – Sejak pagi hari, ratusan jamaah mulai memadati pelataran parkir Regale International Convention Center di Jalan H. Adam Malik, Medan Barat. Sekitar 300 orang hadir dalam pelaksanaan Sholat Idulfitri yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Medan Barat dengan suasana khidmat dan penuh kehangatan.
Hamparan sajadah yang tersusun rapi, lantunan takbir yang menggema, serta wajah-wajah penuh kebahagiaan menjadi gambaran kuat kebersamaan umat dalam menyambut hari kemenangan.
Dalam khutbahnya, Ustadz Prof. Sudirman Suparmin mengajak jamaah untuk tidak memaknai Ramadan sebagai ritual tahunan semata. Ia menekankan bahwa puasa adalah madrasah kehidupan yang membentuk karakter manusia yang lebih baik.
“Keberhasilan Ramadan bukan diukur dari berlalunya waktu, tetapi dari perubahan diri. Apakah kita menjadi lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli—itulah yang menjadi ukuran,” ujarnya, menegaskan.
Pesan tersebut terasa relevan dengan kondisi sosial saat ini, di mana nilai kebersamaan dan empati semakin dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketua Panitia, M. Hamdani, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dengan lancar. Ia juga mengapresiasi partisipasi jamaah yang tetap menjaga ketertiban dan kekhusyukan selama pelaksanaan ibadah.
“Kami sangat berterima kasih atas kebersamaan ini. Ini bukan hanya kegiatan ibadah, tetapi juga wujud persatuan umat,” katanya.

Sementara itu, Ketua PCM Medan Barat, Drs. H. Ahmad Dharby, menegaskan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan, khususnya dalam praktik keagamaan yang kerap menjadi perbincangan di masyarakat.
“Perbedaan itu pasti ada, dan itu bukan masalah. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan bijak, saling menghormati, dan tidak menjadikannya sebagai sumber perpecahan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya zakat sebagai bentuk nyata kepedulian sosial. Menurutnya, zakat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga solusi dalam memperkuat solidaritas dan membantu sesama yang membutuhkan.
Pelaksanaan Sholat Id ini tidak hanya menjadi puncak ibadah setelah Ramadan, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi antarwarga. Di tengah dinamika kehidupan sosial, kebersamaan yang tercipta pagi itu menjadi pengingat bahwa nilai persatuan dan kepedulian tetap menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
Idulfitri pun kembali menegaskan maknanya—bukan hanya tentang kembali suci, tetapi juga kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan yang menyatukan.